Ada panggilan dari kakak saya satu-satunya, Mbak Ratih. Tertera lima panggilan tak terjawab, dan tiga panggilan tak terjawab dari istri saya. Begitu melihat hal tersebut, pikiran saya sudah macam-macam. Pasti orang tua. Dan pada saat itu, orang tua saya yang memang sedang sakit adalah bapak. Bapak sudah sekitar setahun terakhir rutin cuci darah dan sering bercerita tentang kondisinya.
Balik ke beberapa tahun sebelumnya, bapak adalah satu-satunya orang di dunia ini yang dengan ikhlas selalu ingin melihat saya menjadi lebih baik daripada dirinya, tanpa rasa iri maupun benci.
Kami sering bercandaan dengan kalimat, “Taruno iku raiso ngungkuli bopo.” Kalimat berbahasa Jawa yang kurang lebih berarti seorang anak tidak akan bisa melampaui ayahnya tanpa restu dari ayahnya.
Karena itu, bapak selalu berpesan, “Bapak selalu doain kamu supaya selalu lebih baik dari bapak. Kamu yang semangat dalam hal apa pun.”
Waktu itu saya hanya mengiyakan saja. Pada dasarnya, saya memang sadar diri bahwa hal-hal yang sudah diraih bapak saya jauh dari pencapaian bapak-bapak pada umumnya. Mungkin dalam beberapa hal bisa saya samakan, tetapi ada juga beberapa hal yang belum.
Salah satunya, khususnya dalam bidang pendidikan.
Pendidikan terakhir bapak adalah magister ilmu lingkungan. Ketika saya sudah bekerja sebagai PNS selama lima tahun, beliau kembali mengeluarkan statemennya:
“Piye, Dek? Kok masih Taruno raiso ngungkuli bopo. Kowe ndang sekolah maneh, lanjut S2.”
Artinya kurang lebih, “Gimana, Dek? Kok belum bisa melebihi bapak? Kamu segera sekolah lagi, lanjut S2.”
Dari situ saya pun mulai berinisiatif mencari informasi mengenai S2. Latar belakang saya yang teknik kimia membuat saya awalnya ingin melanjutkan di bidang yang sama. Namun, mengingat bagaimana struggling-nya saya waktu S1 dulu, saya jadi berpikir berulang kali. Apalagi di tempat kerja saya, S2 teknik kimia terasa seperti sesuatu yang agak mubazir untuk diambil karena bidang pekerjaan saya sudah tidak terlalu berkaitan dengan teknik kimia.
Saya pun mencari informasi lain hingga akhirnya sampai pada satu kesimpulan: saya mengambil Ilmu Lingkungan.
Alasannya sederhana.
Saya ingin membuktikan kepada ayah saya bahwa setidaknya kalau tidak bisa melebihi, masih bisa menyamai.
Hehehe...
Dengan semangat dan keyakinan penuh, saya bilang kepada bapak, “Ilmu lingkungan, Yah. Saya mau ambil bidang itu dan bakal lebih baik dari Ayah.”
Bapak saya cuma tertawa dan menjawab, “Buruan buktiin.”
Dan akhirnya, ketika masih musim COVID, saya mendaftar di UNPAD Bandung. Saya yang merasa sedang di atas angin sebagai alumni chemical engineer pun berpikir bahwa ini bakal bisa saya taklukkan.
Sambil senyum penuh kemenangan tentunya...
Long story short, ternyata meleset.
Usia yang sudah tiga puluhan ternyata berbeda ketika dibandingkan dengan masa belasan sampai dua puluhan. Saya pun terseok-seok sendiri, kalau tidak mau dibilang jungkir balik, wkwkwkwk...
Kemalasan adalah musuh utama.
Sampai beberapa semester kemudian, akhirnya saya bisa lulus. Walaupun sebenarnya tidak bisa dikatakan lebih baik daripada ayah saya. Bapak hanya membutuhkan empat semester untuk bisa wisuda.
Dan ketika akhirnya saya ingin pamer ke ayah saya...
Ternyata ayah sudah lebih dulu berpulang.
Ayah saya tidak memberikan kesempatan kepada anaknya untuk membuktikan bahwa kalimatnya itu salah.
Bahwa “Taruno ini masih bisa menyamai bopo, walaupun belum bisa melebihi.”
---
Hari itu, 20 Januari 2026, pagi hari, saya diberi kabar oleh kakak saya bahwa ayah saya sudah tiada.
Siangnya, saya mengantarkan raga bapak ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Namun rasanya, dunia ikut berhenti.
Dua jiwa yang mati.
Bapak yang pulang kepada Sang Pencipta, dan sebagian dari hati saya yang ikut terkubur di dalam tanah yang sama.
I love you, Dad.
Forever and ever...
No comments:
Post a Comment